Semua orang membutuhkan harta. Namun Islam tidak hanya
mengatur cara membelanjakan harta, tetapi juga cara mendapatkannya. Sesuatu
yang halal tidak hanya dzatnya namun juga dilihat dari cara memperolehnya. Nabi
shollallahu alaihi wasallam bersabda: "Mencari rezeki yang halal adalah
kewajiban bagi setiap muslim." (HR. Ath-Thabarani) طَلَبُ الْحَلَالِ وَاجِبٌ عَلَى
كُلِّ مُسْلِمٍ
Apa itu Riba? Secara bahasa: Tambahan atau kelebihan
| Secara syariat: Setiap tambahan yang disyaratkan dalam transaksi
utang-piutang atau jual beli tertentu yang diharamkan syariat.
Mengapa Riba Sangat Berbahaya?
a. Penghuni Neraka. Dan
barang siapa yang mengulangi (mengambil riba), maka orang itu adalah
penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya”. [Al-Baqarah/2:275]
b. Melaknat Semua yang Terlibat: Nabi saw melaknat orang yang memakan riba, orang yang memberi riba, dua orang saksi dan
pencatat (dalam transaksi riba), mereka sama saja”. [HR.Muslim dan Ahmad]
لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم-
آكِلَ الرِّبَا وَمُوكِلَهُ وَكَاتِبَهُ وَشَاهِدَيْهِ وَقَالَ هُمْ سَوَاءٌ.
Penyebab Orang Tetap
Terjerumus: Ingin cepat (terlihat) kaya, gaya hidup, kurang ilmu agama, menganggap
bunga itu hal biasa.
Bentuk Riba :
a. Riba Fadhl: Rasulullah shollallahu alaihi wasallam
bersabda: “Jika emas dijual dengan emas, perak dijual dengan perak, gandum
dijual dengan gandum, sya’ir (salah satu jenis gandum) dijual dengan sya’ir,
kurma dijual dengan kurma, dan garam dijual dengan garam, maka jumlah (takaran
atau timbangan) harus sama dan dibayar kontan (tunai). Barangsiapa menambah
atau meminta tambahan, maka ia telah berbuat riba. Orang yang mengambil
tambahan tersebut dan orang yang memberinya sama-sama berada dalam dosa.” (HR.
Muslim no. 1584)
b. Riba Nasiah: tambahan jumlah pengembalian yang
disyaratkan karena adanya penundaan, penangguhan, atau keterlambatan dalam
pembayaran atau penyerahan barang ribawi (mata uang dan bahan makanan pokok).
Nabi bersabda: “Tidak ada riba kecuali pada nasi-ah” (HR. Bukhari &
Muslim) (لا ربا
إلا في النسيئة
c. Riba Qardh: jenis riba yang terjadi dalam transaksi
utang-piutang, di mana pemberi pinjaman mensyaratkan adanya kelebihan (bunga).
Ibnu Qudamah: Setiap hutang piutang yang mensyaratkan adanya tambahan, maka itu
adalah haram.
Contoh di Zaman Sekarang:
a. Rentenir/Pinjaman berbunga,
b. Pinjaman online (pinjol) berbunga ,
c. PayLater yang berbunga ,
d. Koperasi ribawi,
e. kredit kendaraan berbunga/ kredit rumah berbunga,
f.
tukar tambah emas,
g. gadai konvensional.
Contoh bukan Riba:
a. Akad jual beli secara kredit langsung dengan orang yang menjual dengan harga fixed (tetap).
Melebihkan saat pelunasan jika tidak ada syarat dari awal. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah meminjam dari seorang seekor onta yang masih muda. Kemudian ada satu ekor onta sedekah yang dibawa kepada beliau. Beliau lalu memerintahkan Abu Rafi’ untuk membayar kepada orang tersebut pinjaman satu ekor onta muda. Abu Rafi’ pulang kepada beliau dan berkata: “Aku tidak mendapatkan kecuali onta yang masuk umur ketujuh”. Lalu beliau menjawab: “Berikanlah itu kepadanya! Sesungguhnya sebaik-baik manusia adalah yang paling baik dalam membayar hutangnya”. [HR Muslim no.4192].
Post a Comment for "Kajian Ringkas Tentang Riba"