
Meneladani Sifat-Sifat Kemuliaan yang Allah Cintai

Dalam perjalanan mendekat kepada Allah, seorang Muslim tidak cukup hanya memperbanyak ibadah secara lahiriah. Shalat, puasa, membaca Al-Qur'an, dzikir dan berbagai amal ibadah seharusnya melahirkan perubahan pada akhlak dan perilaku.
Sebab, salah satu tanda bahwa seseorang semakin dekat kepada Allah adalah semakin baik akhlaknya kepada Allah, kepada manusia, bahkan kepada makhluk secara keseluruhan.
Ada sebuah ungkapan yang sering dijumpai dalam pembahasan tasawuf:
تَخَلَّقُوا بِأَخْلَاقِ اللهِ
“Berakhlaklah dengan akhlak Allah.”
Ungkapan ini harus dipahami dengan benar. Bukan berarti manusia dapat menyamai Allah atau memiliki sifat-sifat ketuhanan. Allah adalah Al-Khaliq, sedangkan manusia adalah makhluk. Allah Maha Sempurna, sedangkan manusia penuh dengan kekurangan.
Maksud yang dapat dipahami adalah: seorang hamba berusaha menghiasi dirinya dengan akhlak mulia yang Allah cintai dan perintahkan.
Allah berfirman:
وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ فَادْعُوهُ بِهَا
“Dan Allah memiliki Asmaul Husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut Asmaul Husna itu.”
(QS. Al-A'raf: 180)
Mengenal nama-nama Allah seharusnya tidak berhenti pada hafalan. Semakin seseorang mengenal Allah, seharusnya semakin tampak pengaruhnya dalam kehidupan.
1. Allah Maha Rahman dan Maha Rahim — Maka Jadilah Orang yang Penyayang
Allah memperkenalkan diri-Nya dengan nama Ar-Rahman dan Ar-Rahim.
Kasih sayang Allah begitu luas. Bahkan seluruh kehidupan manusia tidak akan pernah terlepas dari rahmat-Nya.
Allah berfirman:
وَرَحْمَتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ
“Dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu.”
(QS. Al-A'raf: 156)
Maka seorang Muslim hendaknya memiliki sifat rahmah.
Seorang guru menyayangi muridnya.
Orang tua menyayangi anaknya.
Pengasuh menyayangi santrinya.
Seorang santri menyayangi temannya.
Orang yang kuat menyayangi yang lemah.
Jangan sampai seseorang rajin beribadah tetapi lisannya menyakiti orang lain, tangannya menyakiti, atau kehadirannya justru membuat orang lain merasa takut dan terhina.
Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ لَا يَرْحَمْ لَا يُرْحَمْ
“Barang siapa tidak menyayangi, maka ia tidak akan disayangi.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Akhlak seorang hamba harus membuat orang lain merasakan rahmat, bukan penderitaan.
2. Allah Maha Pemaaf — Maka Belajarlah Memaafkan
Di antara nama Allah adalah Al-'Afuww, Yang Maha Pemaaf.
Allah tidak hanya mengetahui dosa manusia, tetapi juga membuka pintu taubat dan pengampunan.
Allah berfirman:
وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا ۗ أَلَا تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ
“Hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Tidakkah kalian suka bahwa Allah mengampuni kalian?”
(QS. An-Nur: 22)
Ini adalah pendidikan yang luar biasa.
Allah seakan mengajarkan kepada kita:
Jika engkau berharap mendapatkan ampunan Allah, belajarlah mengampuni manusia.
Memaafkan bukan berarti membenarkan kesalahan.
Memaafkan bukan berarti membiarkan kezaliman.
Tetapi memaafkan berarti tidak membiarkan hati kita terus-menerus menjadi tempat tumbuhnya dendam.
3. Allah Maha Pemurah — Maka Jadilah Orang yang Dermawan
Allah adalah Al-Karim, Yang Maha Pemurah dan Maha Mulia.
Allah memberikan begitu banyak nikmat kepada manusia tanpa manusia mampu menghitungnya.
Allah berfirman:
وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا
“Jika kalian menghitung nikmat Allah, niscaya kalian tidak akan mampu menghitungnya.”
(QS. Ibrahim: 34)
Maka orang yang mengenal kemurahan Allah seharusnya tidak menjadi manusia yang pelit.
Kedermawanan bukan hanya soal uang.
Memberikan ilmu adalah sedekah.
Memberikan senyuman adalah kebaikan.
Membantu orang yang kesulitan adalah kebaikan.
Memaafkan kesalahan orang lain adalah kebaikan.
Memberikan waktu untuk mendengarkan orang yang sedang memiliki masalah juga merupakan bentuk kepedulian.
Orang yang hidupnya dekat dengan Allah seharusnya menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain.
4. Allah Menutup Aib Hamba — Maka Jangan Membuka Aib Orang Lain
Allah memiliki sifat menutupi kesalahan dan aib hamba-Nya.
Karena itu, seorang Muslim harus berhati-hati dengan lisannya.
Jangan menjadikan kesalahan orang lain sebagai bahan hiburan.
Jangan menyebarkan kekurangan seseorang.
Jangan membuka masa lalu seseorang yang sudah berusaha memperbaiki diri.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Barang siapa menutupi aib seorang Muslim, Allah akan menutupi aibnya di dunia dan akhirat.”
(HR. Muslim)
Di zaman media sosial, nasihat ini semakin penting.
Satu kesalahan seseorang dapat direkam.
Satu kesalahan dapat difoto.
Satu perkataan dapat disebarkan.
Dalam hitungan detik, sesuatu yang dahulu hanya diketahui beberapa orang dapat diketahui ribuan bahkan jutaan manusia.
Maka sebelum menyebarkan aib seseorang, tanyakan kepada diri sendiri:
“Bagaimana jika aibku yang Allah tutupi justru dibuka oleh orang lain?”
5. Allah Maha Sabar dan Tidak Tergesa-gesa Menghukum
Allah memberikan kesempatan kepada manusia untuk bertaubat.
Berulang kali manusia melakukan kesalahan, tetapi Allah tetap membuka pintu kembali.
Ini mengajarkan kepada kita tentang pentingnya sabar dan tidak tergesa-gesa dalam memberikan penilaian kepada seseorang.
Dalam mendidik santri misalnya, seorang pendidik tidak boleh hanya melihat kesalahan hari ini.
Bisa jadi anak yang hari ini sulit diatur, beberapa tahun kemudian menjadi orang yang sangat baik.
Bisa jadi anak yang hari ini sering melakukan kesalahan, suatu hari menjadi orang yang paling bermanfaat.
Tugas pendidik bukan sekadar menghukum kesalahan, tetapi membantu manusia tumbuh menjadi lebih baik.
Karena itu, dalam pendidikan diperlukan keseimbangan:
tegas tanpa kasar,
sayang tanpa memanjakan,
memberi konsekuensi tanpa merendahkan,
menasihati tanpa menghina.
6. Allah Maha Adil — Maka Berlaku Adillah
Allah adalah Al-'Adl, Yang Maha Adil.
Keadilan merupakan salah satu prinsip terbesar dalam Islam.
Allah berfirman:
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ
“Sesungguhnya Allah menyuruh berlaku adil dan berbuat ihsan.”
(QS. An-Nahl: 90)
Adil bukan berarti memperlakukan semua orang dengan cara yang persis sama dalam setiap keadaan.
Adil berarti memberikan sesuatu sesuai dengan haknya.
Seorang guru harus adil kepada murid.
Pengurus harus adil kepada santri.
Orang tua harus adil kepada anak-anaknya.
Pemimpin harus adil kepada orang yang dipimpinnya.
Bahkan terhadap orang yang tidak kita sukai, Islam tetap memerintahkan keadilan.
Allah berfirman:
وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَىٰ أَلَّا تَعْدِلُوا ۚ اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ
“Janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorongmu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa.”
(QS. Al-Ma'idah: 8)
7. Allah Mencintai Keindahan — Maka Perindahlah Akhlak
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ
“Sesungguhnya Allah itu indah dan mencintai keindahan.”
(HR. Muslim)
Keindahan dalam Islam bukan hanya pakaian yang bagus atau tempat yang bersih.
Ada keindahan yang jauh lebih tinggi:
indah lisannya,
indah sikapnya,
indah cara menasihatinya,
indah ketika berbeda pendapat,
indah ketika marah,
indah ketika memiliki kekuasaan,
dan indah ketika memperlakukan orang yang lebih lemah darinya.
Orang yang benar-benar memahami keindahan akan berusaha agar kehadirannya membawa ketenangan.
8. Mengenal Allah Seharusnya Mengubah Akhlak
Inilah inti dari pembahasan ini.
Jangan sampai kita hanya mengenal Asmaul Husna secara lisan.
Kita hafal:
Ar-Rahman, Ar-Rahim, Al-Ghafur, Al-'Afuww, Al-Karim, Al-Halim, Al-'Adl...
Tetapi setelah itu kita menjadi orang yang kasar, pendendam, pelit, suka membuka aib, dan tidak adil.
Kalau kita benar-benar mengenal Allah, seharusnya ilmu itu memberikan pengaruh kepada hati.
Semakin mengenal Ar-Rahman, semakin kita menyayangi.
Semakin mengenal Al-Ghafur, semakin kita berharap ampunan dan mudah mengampuni.
Semakin mengenal Al-Karim, semakin kita belajar menjadi orang yang dermawan.
Semakin mengenal Al-'Adl, semakin kita berhati-hati dalam berlaku tidak adil.
Semakin mengenal Al-Halim, semakin kita belajar menahan amarah dan tidak tergesa-gesa.
Semakin mengenal As-Sattar, semakin kita menjaga aib orang lain.
Dengan demikian, Asmaul Husna bukan sekadar untuk dihafalkan, tetapi untuk dihayati dan menjadi jalan perubahan akhlak.
9. Puncak Akhlak adalah Akhlak Rasulullah ﷺ
Namun ada satu hal yang sangat penting.
Kita tidak belajar akhlak langsung dengan menganggap manusia dapat menyerupai sifat Allah.
Allah telah memberikan kepada kita contoh manusia terbaik, yaitu Rasulullah Muhammad ﷺ.
Allah berfirman:
وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ
“Dan sesungguhnya engkau benar-benar memiliki akhlak yang agung.”
(QS. Al-Qalam: 4)
Karena itu, ketika kita ingin mengetahui bagaimana kasih sayang itu dipraktikkan, lihatlah Rasulullah ﷺ.
Ketika ingin belajar memaafkan, lihatlah Rasulullah ﷺ.
Ketika ingin belajar rendah hati, lihatlah Rasulullah ﷺ.
Ketika ingin belajar menghadapi orang yang menyakiti, lihatlah Rasulullah ﷺ.
Ketika ingin belajar menjadi pemimpin, lihatlah Rasulullah ﷺ.
Akhlak Rasulullah ﷺ adalah contoh nyata bagaimana ajaran Allah diterjemahkan dalam kehidupan manusia.
Sayyidah Aisyah radhiyallahu 'anha ketika ditanya tentang akhlak Rasulullah ﷺ menjawab:
كَانَ خُلُقُهُ الْقُرْآنَ
“Akhlak beliau adalah Al-Qur'an.”
(HR. Muslim)
Artinya, kehidupan Rasulullah ﷺ merupakan gambaran nyata dari nilai-nilai yang diajarkan Al-Qur'an.
Penutup: Jadilah Hamba yang Berakhlak
Tujuan dari perjalanan spiritual bukan sekadar merasa banyak beribadah.
Tetapi bagaimana ibadah itu mengubah kita.
Shalat membuat kita lebih rendah hati.
Dzikir membuat hati lebih tenang.
Puasa membuat kita mampu mengendalikan hawa nafsu.
Membaca Al-Qur'an membuat akhlak kita semakin baik.
Mengenal Asmaul Husna membuat hati kita semakin mengenal siapa Rabb kita.
Dan semakin dekat seorang hamba kepada Allah, seharusnya semakin lembut akhlaknya kepada manusia.
Karena itu, mari kita bertanya kepada diri sendiri:
Apakah ibadahku sudah memperbaiki akhlakku?
Apakah orang-orang di sekitarku merasakan rahmat dari kehadiranku?
Apakah aku mudah memaafkan?
Apakah aku menjaga aib orang lain?
Apakah aku adil ketika memiliki kekuasaan?
Apakah aku tetap rendah hati ketika memiliki kelebihan?
Apakah aku menjadi manusia yang lebih bermanfaat setelah mengenal Allah?
Sebab pada akhirnya, ilmu yang tidak melahirkan akhlak belum mencapai tujuan yang diharapkan.
Mari mengenal Allah melalui Asmaul Husna.
Mari mencintai Allah dengan ibadah.
Dan mari membuktikan cinta itu melalui akhlak yang mulia kepada sesama.
“Semakin dekat seorang hamba kepada Allah, seharusnya semakin indah akhlaknya.”
Posting Komentar untuk " Berakhlak dengan Akhlak Allah"