Catatan Pribadi

28 May 2026

Semangat Berdakwah

 




Allah memuji mereka yang berdakwah sebagai sosok-sosok yang ucapannya adalah terbaik.

وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?” (QS. Fushshilat: 33).


Ibnu Katsir berkata, “Orang yang paling baik perkataannya adalah yang mengajak hamba Allah ke jalan-Nya.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 12: 240).

Kata Al Hasan Al Bashri, “Dia adalah mukmin yang Allah menerima seruannya dan ia pun menyeru yang lain untuk taat kepada Allah.” (Fathul Qodir, 6: 354 – Asy Syamilah).


Semangatlah Dalam Berdakwah di Jalan Allah

Sahabat, pernahkah kita lelah dalam berdakwah? Merasa sedikit yang mendengar? Atau merasa diri belum pantas? Ingatlah, Allah tidak menilai hasil, tetapi usaha dan keikhlasan kita.

Allah berfirman dalam Al-Qur’an:“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik.” (QS. An-Nahl: 125)


✨ Kenapa kita harus semangat berdakwah?

1️⃣ Dakwah adalah tugas para nabi

Jalan ini adalah jalan para rasul, termasuk Nabi Muhammad. Ketika kita berdakwah, kita sedang berjalan di jejak mereka.

2️⃣ Pahala terus mengalir

Satu orang saja berubah karena kita, maka pahala akan terus mengalir meski kita sudah tiada.

3️⃣ Dakwah memperbaiki diri

Saat mengajak orang lain, kita juga terdorong untuk menjadi lebih baik.

🌱 Mulai dari yang sederhana:

✅ Mengingatkan keluarga sholat

✅ Menebar kebaikan di media sosial

✅ Menjadi teladan akhlak

✅ Mengajak dengan lembut dan hikmah


Jangan tunggu sempurna untuk berdakwah. Justru berdakwah akan membuat kita semakin baik.

Semoga Allah menguatkan langkah kita di jalan dakwah, menjaga keikhlasan, dan memberi keberkahan. Aamiin 🤲

Share:

Prinsip Pemimpin Dalam Al Quran

 




Kepemimpin Dalam Al-Quran 


Berikut sikap pemimpin yang sesuai dengan Al Quran: 

1. Berlaku lemah lembut 

Allah Berfirman: 

 فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللّٰهِ لِنْتَ لَهُمْ ۚ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيْظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوْا مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِى الْاَمْرِۚ فَاِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِيْنَ 

Artinya: “Maka, berkat rahmat Allah engkau (Nabi Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Seandainya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka akan menjauh dari sekitarmu. Oleh karena itu, maafkanlah mereka, mohonkanlah ampunan untuk mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam segala urusan (penting). Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertawakal.” QS. Ali Imran ayat 159

Maknanya seorang pemimpin harus siap mempunya jiwa yang lapang, sehingga apabila anggotanya ada yang salah atau bandel bisa melakukan 3 hal berikut:

  1. Memaafkan kesalahan mereka
  2. Memohon ampun untuk mereka
  3. Bermusyawarah dengan mereka


2. Menjadi penegak kebenaran dan menghukumi dengan adil  

Allah Berfirman:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُوْنُوْا قَوَّامِيْنَ لِلّٰهِ شُهَدَاۤءَ بِالْقِسْطِۖ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَاٰنُ قَوْمٍ عَلٰٓى اَلَّا تَعْدِلُوْا ۗاِعْدِلُوْاۗ هُوَ اَقْرَبُ لِلتَّقْوٰىۖ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌۢ بِمَا تَعْمَلُوْنَ 

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penegak (kebenaran) karena Allah (dan) saksi-saksi (yang bertindak) dengan adil. Janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlakulah adil karena (adil) itu lebih dekat pada takwa. Bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Teliti terhadap apa yang kamu kerjakan.”Al-Maidah ayat 8 


3. Jika terjadi perbedaan maka kembalikan kepada AL Quran dan Sunnah (An Nisa yat 59) 4.


4. Rendahkan sayapmu kepada pengikutmu (tawadhu’ jangan takabbur) As Syuara 215) 

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

 وَاخْفِضْ جَنَاحَكَ لِمَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ 

“Rendahkanlah dirimu wahai Rasulullah kepada orang-orang beriman yang mengikutimu.” (QS. Asy-Syu’ara'[26]: 215)

Maknanya bersiakap tawadhu, rendah hati jangan bersikap sombong.

Share:

Yuk Mondok...

 


PENERIMAAN SANTRI BARU PONDOK PESANTREN MODERN DAR AL-FARADIS

Program Unggulan:
  • Kurikulum Nasional (SMP & MA)
  • Kurikulum Diniyah Kepesantrenan
  • Tahfidzul Qur’an
  • Tahfidzul Hadist
  • Ekstrakurikuler
  • Bahasa Arab/Inggris

Fasilitas:
  • Asrama Nyaman & Kondusif
  • Masjid Pesantren
  • Ruang Kelas
  • Lab Komputer
  • Lapangan Olahraga
  • Perpustakaan

Waktu Pendaftaran:
– Gelombang 2 : 1 Januari – 31 Mei 26
– Gelombang 3 : 1 Juni – 15 Juli 2026

Cara Pendaftaran:
- Kunjungi link pendaftaran online: pendaftaran.alfaradis.com
- Kunjungi kami di alamat: Jl Muslimat Komplek Harjosari Kidul Rt.8 Rw.6 Adiwerna Tegal


Share:

Tujuan Hidup Kita

 

3 Tujuan Hidup Manusia dalam Islam Beserta Dalilnya

Manusia diciptakan oleh Allah ﷻ bukan tanpa tujuan. Kehidupan di dunia adalah amanah yang harus dijalani dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab. Dalam Islam, setidaknya ada tiga tujuan utama hidup manusia yang harus dipahami dan diamalkan, yaitu: beribadah kepada Allah, memakmurkan bumi sebagai khalifah, dan membersihkan hati agar dekat kepada-Nya.

1. Beribadah kepada Allah ﷻ

Tujuan pertama dan paling utama manusia diciptakan adalah untuk beribadah kepada Allah semata. Ibadah bukan hanya shalat, puasa, dan membaca Al-Qur’an, tetapi seluruh aktivitas yang dilakukan dengan niat karena Allah dan sesuai syariat juga termasuk ibadah.

Allah ﷻ berfirman:

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.”
— QS. Adz-Dzariyat: 56

Ibadah menjadi inti kehidupan seorang muslim. Dengan ibadah, manusia mengenal Rabb-nya, memperoleh ketenangan hati, dan mendapatkan kebahagiaan dunia serta akhirat.

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

“Hak Allah atas hamba-hamba-Nya adalah mereka beribadah kepada-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun.”
— HR. Bukhari dan Muslim

Karena itu, seorang muslim hendaknya menjadikan seluruh hidupnya bernilai ibadah: bekerja, belajar, berdakwah, berkeluarga, bahkan tersenyum kepada sesama jika diniatkan karena Allah.


2. Memakmurkan Dunia sebagai Khalifah

Selain beribadah, manusia juga diberi amanah sebagai khalifah di muka bumi. Artinya, manusia ditugaskan untuk menjaga, membangun, dan memakmurkan dunia dengan kebaikan, keadilan, dan kemanfaatan.

Allah ﷻ berfirman:

“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: ‘Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di bumi.’”
— QS. Al-Baqarah: 30

Menjadi khalifah berarti manusia tidak boleh membuat kerusakan, tetapi harus menghadirkan manfaat. Seorang guru mendidik muridnya, petani menanam, pedagang jujur dalam berdagang, ulama berdakwah, dan pemimpin berlaku adil — semuanya termasuk bentuk memakmurkan bumi.

Allah ﷻ juga berfirman:

“Dia telah menciptakan kamu dari bumi dan menjadikan kamu pemakmurnya.”
— QS. Hud: 61

Islam mengajarkan keseimbangan antara ibadah dan usaha dunia. Seorang muslim diperintahkan untuk rajin bekerja, menuntut ilmu, membangun masyarakat, serta membantu sesama sebagai bagian dari tugas kekhalifahan.


3. Membersihkan Hati dan Jiwa

Tujuan hidup berikutnya adalah membersihkan hati agar menjadi hamba yang dekat kepada Allah. Hati yang bersih akan melahirkan akhlak mulia, keikhlasan, kesabaran, dan ketakwaan.

Allah ﷻ berfirman:

“Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwanya, dan sungguh rugi orang yang mengotorinya.”
— QS. Asy-Syams: 9–10

Penyakit hati seperti riya, sombong, iri, dengki, dan cinta dunia berlebihan harus dibersihkan dengan taubat, dzikir, ilmu, ibadah, dan muhasabah diri.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Ketahuilah, sesungguhnya di dalam jasad ada segumpal daging. Jika ia baik maka baiklah seluruh jasad, dan jika ia rusak maka rusaklah seluruh jasad. Ketahuilah, itu adalah hati.”
— HR. Bukhari dan Muslim

Karena itu, para ulama sangat menekankan pentingnya tazkiyatun nafs (penyucian jiwa). Orang yang hatinya bersih akan mudah menerima nasihat, mencintai kebaikan, dan merasa tenang dalam beribadah.

Share:

Kegiatan Qurban di Ponpes Dar Al Faradis

Alhamdulillahirabbil ‘alamin, hari ini keluarga besar Pondok Pesantren Dar Al-Faradis kembali melaksanakan kegiatan penyembelihan hewan qurban dalam rangka Hari Raya Idul Adha dengan penuh khidmat, semangat kebersamaan, dan rasa syukur kepada Allah SWT.

Pada tahun ini, amanah qurban yang dititipkan kepada pondok terdiri dari 2 ekor sapi dan 11 ekor kambing. Seluruh proses penyembelihan dilaksanakan sesuai syariat Islam dengan melibatkan para panitia, ustadz, santri, dan masyarakat sekitar pondok. Kegiatan ini menjadi sarana pendidikan bagi para santri untuk belajar tentang keikhlasan, pengorbanan, gotong royong, serta kepedulian sosial terhadap sesama.

Suasana kebersamaan sangat terasa sejak pagi hari. Para santri turut membantu proses penyiapan tempat, pengemasan daging, hingga pendistribusian kepada para penerima manfaat. Semangat para panitia dan santri menunjukkan indahnya nilai ukhuwah Islamiyah yang terus ditanamkan di lingkungan pondok.

Adapun distribusi daging qurban tahun ini disalurkan kepada berbagai kalangan, di antaranya:

  • 21 Shohibul Qurban
  • 128 Santri
  • 30 Guru dan Asatidz
  • 72 Warga Harjosari
  • 30 Warga Disabilitas
  • 80 Warga sekitar pondok
  • 150 Tetangga Shohibul Qurban dan anak yatim

Melalui kegiatan ini, pondok berharap ibadah qurban tidak hanya menjadi bentuk ketaatan kepada Allah SWT, tetapi juga menjadi jalan untuk mempererat silaturahmi, menumbuhkan kepedulian sosial, dan menghadirkan kebahagiaan bagi masyarakat yang menerima manfaat qurban.

Kami mengucapkan jazakumullahu khairan kepada seluruh Shohibul Qurban, donatur, panitia, dan semua pihak yang telah membantu terselenggaranya kegiatan qurban di Pondok Pesantren Dar Al-Faradis. Semoga Allah SWT menerima amal ibadah qurban kita semua dan melimpahkan keberkahan kepada para pekurban serta seluruh kaum muslimin. Aamiin







Share:

Amalan Hari Tasyrik

 


Apa Itu Hari Tasyrik?

Hari Tasyrik adalah tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijjah, yaitu tiga hari setelah Hari Raya Idul Adha. Hari-hari ini termasuk hari yang mulia dalam Islam dan memiliki banyak keutamaan. Pada hari tasyrik, kaum muslimin dianjurkan untuk memperbanyak dzikir, bersyukur kepada Allah, serta menikmati rezeki yang Allah berikan.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Hari-hari tasyrik adalah hari makan, minum, dan berdzikir kepada Allah.”
(HR. Muslim)


Keutamaan Hari Tasyrik

1. Hari yang Dicintai Allah

Hari tasyrik termasuk bagian dari hari-hari mulia di bulan Dzulhijjah. Allah سبحانه وتعالى menyebut hari-hari tersebut sebagai ayyamin ma’dudat (hari-hari yang berbilang).

Allah berfirman:

“Dan berdzikirlah kepada Allah pada hari yang telah ditentukan jumlahnya.”
(QS. Al-Baqarah: 203)

Para ulama menjelaskan bahwa ayat ini berkaitan dengan hari-hari tasyrik.


2. Hari untuk Berdzikir kepada Allah

Hari tasyrik sangat dianjurkan untuk memperbanyak dzikir seperti:

  • Takbir
  • Tahmid
  • Tahlil
  • Tasbih

Dzikir menjadi salah satu amalan utama pada hari-hari ini karena Allah memerintahkan kaum muslimin untuk banyak mengingat-Nya.


3. Hari Makan dan Minum

Berbeda dengan hari-hari sunnah lainnya, pada hari tasyrik kaum muslimin dilarang berpuasa. Hari ini adalah waktu menikmati nikmat Allah sebagai bentuk rasa syukur.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Hari tasyrik adalah hari makan, minum, dan mengingat Allah.”
(HR. Muslim)


4. Masih Termasuk Waktu Penyembelihan Qurban

Hari tasyrik juga menjadi waktu yang diperbolehkan untuk menyembelih hewan qurban bagi yang belum melaksanakannya pada hari Idul Adha.

Share:

Featured Post

3 dzikir utama

  3 dzikir utama versi saya sendiri ada 3 yaitu tahlil, sholawat dan istighfar. Beberapa saudara seiman datang meminta amalan, maka rata-rat...

BTemplates.com